Menu Masakan CHICKEN FINGER NUGGET Dan Menu Masakan KUE BOLU LAPIS ES KRIM

Menu Masakan CHICKEN FINGER NUGGET


Bahan
  • Fillet ayam 300 g, potong panjang ukuran 1x10 cm
  • Bawang putih 3 siung, parut
  • Tepung terigu 125 g
  • Tepung maizena 20 g
  • Air 50 ml
  • Baking powder 1/2 sdt
  • Minyak goreng 500 ml
  • Merica bubuk 1 sdt
  • Garam, mayones dan saus tomat secukupnya
resep nugget udang
cara membuat nugget 
Campurlah terigu, tepung maizena dan baking powder kira-kira 1/2 sdt merica bubuk dan garam. setelah itu Aduk merata.
  1. Ambil sepertiga bagian campuran terigu, tuangi air. Aduk rata.
  2. Campur chicken strip dengan bawang putih dan merica lalu garam. setelah itu Aduk merata, diamkanlah selama 30 menit.
  3. Celupkan nugget ayam dalam larutan terigu, balut dengan campuran terigu kering hingga merata.
  4. Goreng nuget ayam hingga matang dan sampai warnanya kecokelatan kemudian Angkat.
  5. Tuang mayones dan saus tomat didalam gelas kemudian beri sepotong ayam goreng. setelah itu Sajikan.
resep Chicken Finger nugget










Menu Masakan KUE BOLU LAPIS ES KRIM


bahan-bahan untuk bolu
  • kuning telur 8 butir.
  • gula halus 80 gr.
  • tepung terigu 2 sm.
  • mentega 2 sm(dikocok).
  • untuk lapisan cokelat :
  • kuning telur 9 btr.
  • gula halus 80 gr.
  • tepung terigu 1 sendok makan.
  • coklat bubuk 2-3 sm.
  • mentega 2 sm.
bahan lapis es krim
  • es krim coklat 1 ltr.
  • es krim rhum dan kismis 1 ltr.
  • es krim melon/kelapa kopyor/alpukat 1 ltr.
  • aluminium foil secukupnya.
resep kue bolu lapis es krim
cara membuat kue bolu lapis es krim
  1. untuk lapisan putih; kuning telur dan gula dikocok hingga mengembang dan pekat.
  2. campurkan tepung ke dalam kocokkan mentega, lalau aduk kocokkan telurnya. alasi loyang persegi empat (22x22cm)
  3. dengan alumunium foil, olesi dengan mentega lalu taburi tepung. tuang adonan kue boluke dalam loyang lalu bakar dalam oven
  4. dengan panas tinggi selama 25 menit. keluarkan kue bolu ke atas alumunium foil dalam ke adaan hati-hati dan lepaskan alumunium
  5. dari dasarnya. dengan hati-hati balik lapisan putih ini dan dinginkan.
  6. untuk lapisan coklat; kocokan mentega dicampur dengan coklat bubuk dan tepung, selanjtnya ikuti cara pembuatan lapisan putih.
  7. untuk menyusunnya ; ambilah alumuniunm foil (46cmx70cm) dan letakkan lapisan putih di tengahnya. lapis dengan es krim melon
  8. (hijau lalau tutup denagn lapisan coklat. ratakan es krim stroberi ke atsnya. tutup lapisan es krim dengan alumunium foil
  9. kemudian balik hingga lapisan putih berada di atas. tutup dengan es krim rum dan kismis. bungkus dengan alumunium foil
  10. dan simpan kue bolu lapis es krim di freezer selama 24 jam






Iklan Numpang Lewat Gan Hehe



Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan kesakitan yang tinggi. Hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya (Sustarmi, et al 2005). Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan darah yang tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya risiko terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kardiovaskuler seperti stroke, gagal ginjal, serangan jantung, dan kerusakan ginjal (Sutanto, 2010).

Hipertensi pada lanjut usia sebagian besar merupakan hipertensi sistolik terisolasi (HST), meningkatnya tekanan sistolik menyebabkan besarnya kemungkinan timbulnya kejadian stroke dan infark myocard bahkan walaupun tekanan diastoliknya dalam batas normal (isolated systolic hypertension). Isolated systolic hypertension adalah bentuk hipertensi yang paling sering terjadi pada lansia. Pada suatu penelitian, hipertensi menempati 87% kasus pada orang yang berumur 50 sampai 59 tahun. Adanya hipertensi, baik HST maupun kombinasi sistolik dan diastolik merupakan faktor risiko morbiditas dan mortalitas untuk orang lanjut usia. Hipertensi masih merupakan faktor risiko utama untuk stroke, gagal jantung penyakit koroner, dimana peranannya diperkirakan lebih besar dibandingkan pada orang yang lebih muda (Kuswardhani, 2007).

Kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama, terutama aorta, dan akibat dari berkurangnya kelenturan. Dengan mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu kehilangan daya penyesuaian diri. Dinding, yang kini tidak elastis, tidak dapat lagi mengubah darah yang keluar dari jantung menjadi aliran yang lancar. Hasilnya adalah gelombang denyut yang tidak terputus dengan puncak yang tinggi (sistolik) dan lembah yang dalam (diastolik) (Wolff , 2008).
Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan pada kelompok lansia. Sebagai hasil pembangunan yang pesat dewasa ini dapat meningkatkan umur harapan hidup, sehingga jumlah lansia bertambah tiap tahunnya, peningkatan usia tersebut sering diikuti dengan meningkatnya penyakit degeneratif dan masalah kesehatan lain pada kelompok ini. Hipertensi sebagai salah satu penyakit degeneratif yang sering dijumpai pada kelompok lansia (Abdullah, 2005).
Berdasarkan data WHO diperkirakan penderita hipertensi di seluruh dunia berjumlah 600 juta orang, dengan 3 juta kematian setiap tahun. Di Amerika, diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita Hipertensi (Mukhtar, 2007). Di Indonesia, sampai saat ini memang belum ada data yang bersifat nasional, multisenter, yang dapat menggambarkan prevelensi lengkap mengenai hipertensi. Namun beberapa sumber, yakni Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, prevalensi hipertensi di Indonesia pada orang yang berusia di atas 35 tahun adalah lebih dari 15,6%. Survei faktor resiko penyakit kardiovaskular (PKV) oleh proyek WHO di Jakarta, menunjukkan angka prevalensi hipertensi dengan tekanan darah 160/90 masing-masing pada pria adalah 13,6% (1988), 16,5% (1993), dan 12,1% (2000). Pada wanita, angka prevalensi mencapai 16% (1988), 17% (1993), dan 12,2% (2000). Secara umum, prevalensi hipertensi pada usia lebih dari 50 tahun berkisar antara 15%-20% (Depkes, 2010).

Hipertensi juga menempati peringkat ke-2 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit di Indonesia pada tahun 2006 dengan prevalensi sebesar 4,67% (Depkes, 2008). Data Riset Kesehatan Dasar (2007) menyebutkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 30% dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskular lebih banyak pada perempuan (52%) dibandingkan laki-laki (48%). Data Riskesdas juga menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian pada semua umur di Indonesia (Depkes, 2011). Jawa Timur menempati posisi pertama untuk provinsi dengan prevalensi hipertensi tertinggi yaitu sebesar 37,4% (Depkes, 2011). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Jember penderita hipertensi adalah 55.691 penderita (Dinkes Kabupaten Jember, 2011). Data di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia pada tahun 2011 menunjukkan bahwa prevalensi penyakit hipertensi menempati urutan ke-2 dalam 3 penyakit terbanyak di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember (UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember, 2011).

Hipertensi merupakan penyakit multifaktorial yang munculnya oleh karena interaksi berbagai faktor. Dengan bertambahnya umur, maka tekanan darah juga akan meningkat. karena adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku. Setelah umur 45 tahun, dinding arteri akan mengalami penebalan oleh Secara umum, dengan bertambahnya usia maka tekanan darah akan bertambah tinggi, baik tekanan darah sistolik maupun tekanan darah diastolik. Peningkatan tekanan sistolik menunjukkan resiko yang lebih penting daripada peningkatan tekanan darah diastolik (Nugraheni et al., 2008).

Baik Tekanan Darah Sistolik (TDS) maupun Tekanan Darah Diastolik (TDD) meningkat sesuai dengan meningkatnya umur. TDS meningkat secara progresif sampai 70-80 tahun, sedangkan TDD meningkat sampai umur 50-60 tahun dan kemudian cenderung menetap atau sedikit menurun. Penebalan dinding aorta dan pembuluh darah besar meningkat dan elastisitas pembuluh darah menurun sesuai umur. Perubahan ini menyebabkan penurunan compliance aorta dan pembuluh darah besar dan mengakibatkan peningkatan TDS. Penurunan elastisitas pembuluh darah menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler perifer. Sensitivitas baroreseptor juga berubah dengan umur. Perubahan mekanisme refleks baroreseptor mungkin dapat menerangkan adanya variabilitas tekanan darah yang terlihat pada pemantauan terus sensitivitas baroreseptor juga berubah dengan umur (Kuswardhani, 2006).

Di Indonesia pada tahun 2010 usia harapan hidup mencapai 72 tahun, sedangkan jumlah pada tahun 2009 cukup besar, yaitu sekitar 16 juta dan pada tahun 2010 secara kumulatif bertambah menjadi 23 juta. Sedangkan pertambahan usia lansia ke depan 7 juta per tahun. Makin meningkatnya harapan hidup makin
kompleks penyakit yang diderita oleh orang lanjut usia, termasuk lebih sering tersering hipertensi. Dari hasil penelitian modern, penyakit degeneratif memiliki korelasi yang cukup kuat dengan bertambahnya proses penuaan usia seseorang, meski faktor keturutan cukup berperan besar (Komnas Lansia, 2010).

Ini terjadi karena perubahan pola atau gaya hidup, termasuk pola konsumsi makan, disamping itu malnutrisi yang lama pada lansia akan mengakibatkan pada kelemahan otot dan kelelahan karena energi yang menurun kemudian akan mengalami ketidakmampuan dalam mobilisasi sehingga terjadi cedera atau luka tekan

(Watson Roger, 2003). Hasil penelitian Oktora (dalam Anggraini, 2009) terhadap penderita hipertensi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru pada tahun 2005 menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi meningkat pada kelompok umur 45-54 tahun, yaitu sebesar 24,07%. Peningkatan jumlah penderita hipertensi mencapai puncaknya pada kelompok umur sama dengan atau lebih dari 65 tahun, yaitu sebesar 31,48%.
Ketidakseimbangan antara konsumsi karbohidrat dan kebutuhan energi, dimana konsumsi terlalu berlebihan dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi akan menimbulkan kegemukan atau obesitas. Kelebihan energi dalam tubuh disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Pada keadaan normal, jaringan lemak ditimbun dalam beberapa tempat tertentu, diantaranya di jaringan subkutan dan didalam jaringan usus (omentum). Jaringan lemak subkutan didaerah dinding perut bagian depan (obesitas sentral) sangat berbahaya daripada jaringan lemak di pantat. Karena menjadi resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler (Yuniastuti, 2007). Berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Resiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20%-30% memiliki berat badan lebih (Nugraheni, et al., 2008).

Asupan makanan dengan kandungan lemak dan natrium yang tinggi dapat mempengaruhi tinggi rendahnya tekanan darah dalam tubuh sehingga menyebabkan

terjadinya hipertensi. Asupan kalium yang meningkat akan menurunkan tekanan darah pada beberapa kasus tertentu. Pada penelitian Sumaerih di Indramayu tahun 2006 membuktikan bahwa asupan kalium yang tinggi dapat menurunkan tekanan darah. Sebaliknya kenaikan kadar natrium dalam darah dapat merangsang sekresi renin dan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah perifer yang berdampak pada meningkatnya tekanan darah (Ernitasari, dkk, 2009).
Dalam upaya menghambat perubahan yang terjadi pada lansia maka perlu beradaptasi dengan keterbatasan yang menyertai proses penuaan maka diperlukan penyusunan menu khusus bagi lansia agar keperluan gizi pada lansia tercukupi secara optimal. Asupan zat gizi yang tepat berperan dalam menciptakan kesehatan lanjut usia secara optimal. Kecukupan gizi yang akan terpenuhi jika para lanjut usia memperhatikan pola makan yang beragam dan gizi seimbang. Selain itu untuk mengatasi defisiensi berkelanjutan pada lansia dibutuhkan pendekatan yang bersifat multifaktorial (Wirakusumah, ES, 2002).

UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia merupakan satu-satunya panti jompo milik pemerintah yang ada di Kabupaten Jember. Salah satu upaya untuk mempertahankan status gizi lansia tetap baik adalah dengan melaksanakan penyelenggaraan makanan sesuai dengan standar yang ada guna mempertahankan dan meningkatkan konsumsi gizi lansia. Sampai saat ini UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia masih melakukan pengaturan makanan yang bersifat umum. Selain itu selama ini belum pernah diadakan penelitian di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara konsumsi makanan dengan kejadian hipertensi pada lansia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Jember.

Pengertian Hipertensi





Pengertian Hipertensi

Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah, terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer), karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya (Sustrani, 2004). Hipertensi adalah tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg (Mansjoer, 2001). Hipertensi merupakan keadaan dimana tekanan darah menjadi naik dan bertahan pada tekanan tersebut meskipun sudah relaks (Soeharto,2002).

Hipertensi dikaitkan dengan risiko lebih tinggi mengalami serangan sakit jantung. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya risiko terhadap stroke, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal (Irfan, 2008).

2.1.2 Epidemiologi

Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberikan gejala berlanjut untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia (Armilawaty, 2007). Semakin meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga akan bertambah (Yogiantoro, 2006). Diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan menjadi 1,115 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini 

didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini (Armilawaty, 2007).


2.1.3 Patofisiologi

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiostensin II dari angiostensin I oleh Angiostensin I Converting Enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiostensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiostensin I. oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiostensin I diubah manjadi angiostensin II. Angiostensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.

Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormone antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolaritasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.

Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume tekanan darah.

Patogenesis dari hipertensi esensial merupakan multifaktorial dan sangat komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi jaringan yang adekuat meliputi mediator hormon, latihan vaskuler, volume sirkulasi


2.2.1  Pola Konsumsi

Pola konsumsi pangan atau kebiasaan makan adalah berbagai informasi yang

dapat memberikan informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai jumlah, jenis, dan frekuensi bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh seseorang dan merupakan ciri khas untuk satu kelompok masyarakat tertentu. Sebenarnya pola konsumsi tidak dapat menentukan status gizi seseorang atau masyarakat secara langsung, namun hanya dapat digunakan sebagai bukti awal akan kemungkinan terjadinya kekurangan gizi seseorang atau masyarakat (Supariasa et al., 2002).

Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan model bahan makanan yang dikonsumsi setiap hari (Persagi, 2003).

Pola makan terdiri dari:

a.         Frekuensi makan

Frekuensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari baik kualitatif dan kuantitatif (Persagi, 2003). Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis makanan. Jika dirata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam.

b.        Jenis makanan

Jenis makanan adalah variasi bahan makanan yang kalau dimakan, dicerna, dan diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan menu sehat dan seimbang (Persagi, 2003). Menyediakan variasi makanan merupakan salah stau cara untuk menghilangkan rasa bosan. Seseorang akan merasa bosan apabila dihidangkan menu yang itu-itu saja, sehingga mengurangi selera makan. Menyusun hidangan sehat memerlukan keterampilan dan pengetahuan gizi dengan berorientasi pada pedoman 4 sehat 5 sempurna terdiri dari bahan pokok (nasi, ikan, sayuran, buah dan susu). Variasi menu yang tersusun oleh kombinasi bahan makanan yang diperhitungkan dengan tepat akan memberikan hidangan sehat baik secara kualitas maupun kuantitas. Teknik pengolahan makanan adalah guna memperoleh intake yang baik dan bervariasi.


2.2.2  Tingkat Konsumsi

Pengertian tingkat konsumsi adalah kualitas dan kuantitas hidangan. Kualitas

hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh di dalam susunan hidangan dan perbandingan yang satu terhadap yang lain. Kuantitas menunjukkan kwantum masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Jika susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari sudut kualitas atau kuantitas, maka tubuh akan mendapatkan kondisi kesehatan gizi yang sebaik-baiknya (Sodiaoetama, 2004).
2.2.3  Faktor yang mempengaruhi Konsumsi

Menurut Maryam (2008) Faktor-faktor tersebut adalah keterbatasan ekonomi,

penyakit-penyakit kronis, pengaruh psikologis, kesalahan dalam pola makan, kurangnya pengetahuan tentang gizi dan cara pengolahannya, serta menurunnya energi. Pedoman untuk memilih bahan makanan yang sehat yaitu:

a.      Makanan yang beraneka ragam dan mengandung gizi yang cukup.

b.      Makanan yang mudah dikunyah dan dicerna.

c.      Protein yang berkulitas seperti susu, telur, daging, dan ikan.

d.      Sumber Karbohidrat seperti roti, daging, dan sayur-sayuran berwarna hijau. Sebaliknya konsumsi karbohidrat kompleks.

e.   Makanan yang terutama mengandung lemak nabati serta kurangi                   makanan

yang mengandung lemak hewani.

f.      Makanan yang mengandung zat besi seperti kacang-kacangan, hati, danging, bayam, sayuran hijau, dan makanan yang mengandung kalsium seperti ikan atau sayur-sayuran.

g.      Batasi makanan yang diawetkan.

h.      Minum air putih 6-8 gelas sehari karena kebutuhan air meningkat serta untuk memperlancar proses metabolisme. Banyak minum air putih dapat mencegah terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan) serta menurunkan risiko menderita batu ginjal.

2.2.4 Metode Pengukuran Konsumsi

a.         Metode Frekuensi Makan

Metode frekuensi makanan adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu seperti hari, minggu, bulan ataupun tahun. Selain itu juga akan diperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi,
maka cara ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi. Kuesioner konsumsi makanan memuat tentang daftar bahan makanan atau makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Bahan makanan yang ada dalam kuesioner tersebut adalah yang dikonsumsi dalam frekuensi yang cukup sering oleh responden (Supariasa et al., 2002).

Langkah-langkah metode frekuensi makanan menurut Supariasa et al. (2002) adalah sebagai berikut:

1)        Responden diminta untuk memberi tanda pada daftar makanan yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaannya dan ukuran porsinya.

2)        Lakukan rekapitulasi tentang frekuensi penggunaan jenis-jenis bahan makanan

terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu selama periode tertentu pula.

Kelebihan metode frekuensi makanan menurut Supariasa et al. (2002) adalah sebagai berikut:

1)        Relatif murah dan sederhana.

2)        Dapat dilakukan sendiri oleh responden.

3)        Tidak membutuhkan latihan khusus.

4)        Dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan makan.

Kekurangan metode frekuensi makanan menurut Supariasa et al. (2002) adalah

sebagai berikut:

1)        Tidak dapat untuk menghitung intake zat gizi sehari.

2)        Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data.

3)        Cukup menjemukan bagi pewawancara.

4)        Perlu membuat percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner.

5)        Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi.

b. Metode Food Recall 2 x 24 Jam

Tingkat konsumsi makanan dapat diukur dengan menggunakan metode food recall 2x24 hours. Prinsip dari metode recall 2x24 jam dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Dalam metode ini responden disuruh menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24 jam yang lalu (kemarin). Biasanya dimulai sejak responden bangun pagi kemarin sampai istirahat tidur malam harinya, atau dapat juga dimulai dari waktu saat dilakukan wawancara mundur ke belakang sampai 24 jam penuh. Apabila pengukuran hanya dilakukan satu kali (1 x 24 jam), maka data yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makan individu.

Food recall 24 hours sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berurutan sehingga dapat menghasilkan gambaran asupan gizi secara lebih optimal dan bervariasi (Supariasa et al. 2002).

Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa dengan recall 24 jam data yang diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat URT (sendok, gelas, piring dan lain-lain) atau ukuran lainnya yang biasa digunakan sehari-hari (Supariasa et al., 2002).

Kelebihan metode recall 2x24 jam menurut Supariasa et al. (2002) adalah sebagai berikut:

1)        Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani responden.

2)        Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat yang luas untuk wawancara.
3)        Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden.

4)        Dapat digunakan untuk merespon yang buta huruf.

5)        Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari.
Kekurangan metode recall 2x24 jam menurut Supariasa et al. (2002) adalah

sebagai berikut:

1)        Tidak dapat menggambarkan asuapan makanan sehari-hari, bila hanya dilakukan recall satu hari.
2)        Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden.

3)        The flat syndrome yaitu kecenderungan bagi responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit (under estimate).

4)        Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat.

5)        Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari penelitian.

6)        Untuk mendapatkan gambaran konsumsi makanan sehari-hari recall jangan dilakukan pada saat panen, hari pasar, hari akhir pekan, pada saat melakukan upacara-upacara keagamaan, selamatan dan lain-lain.

2.2.5 Faktor Konversi

Setelah data konsumsi diperoleh, maka pengolahan tahap pertama yang dilakukan adalah konversi dari Ukuran Rumah Tangga ke dalam Ukuran berat (gram) atau dari satuan berat.

Dalam melakukan konversi tersebut diperlukan berbagai daftar antara lain :

a)        Daftar komposisi bahan makanan (DKBM)

b)        Daftar kandungan zat gizi makanan jajanan (DKGJ)

c)        Daftar konversi berat mentah masak (DKMM)

d)       Daftar konversi penyerapan minyak (DKPM)

e)        Daftar ukuran rumah tangga (DURT) (Supariasa, et al., 2002)

2.2.6  Analisis Zat Gizi

Analisis data hasil survei konsumsi dapat dilakukan dengan cara komputerisasi

atau secara manual. Pada buku ini hanya dibahas mengenai analisis secara manual. Setelah diketahui jumlah bahan makanan dan makanan yang dikonsumsi oleh

responden, maka dilakukan perhitungan nilai gizi dan bahan makanan tersebut. Analisis kandungan zat gizi dilakukan dengan menggunakan Daftar Konsumsi Bahan Makanan (DKBM) (Supariasa, et al., 2002).



2.2.7 Tingkat Kecukupan Energi dan Zat Gizi

Untuk menilai tingkat konsumsi makanan (untuk energi dan zat gizi), diperlukan suatu standar kecukupan yang dianjurkan atau Recomended Dietary Allowance (RDA) untuk populasi yang diteliti. Untuk Indonesia, Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang digunakan saat ini adalah hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998 (Supariasa, et al., 2002).

2.2.8 Interpretasi Hasil Pengukuran Konsumsi Makanan

Untuk klasifikasi dari tingkat konsumsi kelompok atau rumah tangga atau perorangan, belum ada standar yang pasti. Berdasarkan Buku Pedoman Petugas Gizi Puskesmas, Depkes RI (1990), klasifikasi tingkat konsumsi dibagi menjadi empat

dengan cut of points masing-masing sebagai berikut :

a.
Baik
: ≥100% AKG
b.
Sedang
: 80 – 99% AKG
c.
Kurang
: 70 – 80% AKG
d.
Defisit
: < 70%

(Supariasa, et al., 2002)

2.3 Status Gizi

2.3.1  Pengertian Status Gizi

Status  Gizi  diartikan  sebagai  keadaan  tubuh  sebagai  akibat  konsumsi  dan

penggunaan zat gizi (Almatsier, 2005). Menurut Supariasa, et al. (2002), status gizi adalah sebagai ekskresi dari keadaan keseimbangan atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. Status gizi adalah keadaan kesehatan individu atau kelompok yang ditentukan oleh derajat kesehatan fisik dan energi zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur dengan antropometri.

Status gizi dihubungkan dengan sel tubuh dan pergantian atas zat makanan proses yang berkenaan dengan pertumbuhan dan pemeliharaan serta perbaikan dan pembentukan seluruh kehidupan bagian tubuh akan menghasilkan status gizi yang tinggi dan rendah. Gizi merupakan bagian penting bagi kesehatan dan kesejahteraan yang cukup gizinya apabila mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan yang optimal dan pemeliharaan energi. Status gizi adalah gambaran tentang keadaan gizi seseorang sebagian dimakan dan yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga dapat menggambarkan seseorang tersebut dalam kondisi gizi baik gizi kurang atau gemuk. Untuk mengetahui penilaian status gizi dapat diketahui dengan penilaian status gizi secara langsung dan status gizi secara tidak langsung. Secara langsung dengan antropometri, klinis, biokimia, klinis.Secara tidak langsung survai konsumsi makanan, statistik vital, faktor ekologi. Untuk mengetahui status gizi dapat digunakan dengan antropometri dan survai konsumsi makanan.

Antropometri adalah ukuran tubuh manusia ditinjau dari sudut pandang gizi maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, et al., 2002). Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi, ketidakseimbangan ini dapat dilihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti otot dan jumlah air di dalam tubuh.
Survai konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga, individu. Survai ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi. Metode pengukurannya dengan metode food recall yang dilakukan selama 4 hari berturut-turut.


2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi pada Lansia

Perubahan menua pada lansia dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut perubahan secara logis ini dapat mempengaruhi status gizi pada usia tua, antara lain (Departemen Kesehatan RI, 2003) :

a)        Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan jumlah cairan tubuh juga berkurang, sehingga kulit kelihatan mengkerut dan kurus, wajah berlipat serta muncul garis yang menetap oleh karena itu, pada masa usia lanjut seringkali terlihat kurus.

b)        Penurunan indera penglihatan akibat katarak pada usia lanjut sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A, Vitamin C, asam Folat. Sedangkan gangguan pada indera pengecap yang dihubungkan dengan kadar Zn dapat menurunkan nafsu makan. Penurunan indra pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi terhadap sinyal pendengaran.

c)        Dengan banyaknya gigi geligi yang sudah tanggal mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah yang berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.
d)       Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri yang menyebabkan turunnya nafsu makan usia lanjut. Penurunan mobilitas usus juga meyebabkan susah buang air besar yang menyebabkan wasir.

e)        Kemampuan motorik yang menurun, selain menyebabkan usia lanjut menjadi lamban, kurang aktif dan kesulitan untuk mengecap makanan, dapat mengganggu aktivitas atau kegiatan sehari-hari.

f)         Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, kesulitan berbahasa, kesulitan mengenal benda-benda, kegagalan melakukan aktivitas bertujuan, dan gangguan dalam menyusun rencana, mengatur sesuatu, mengurutkan, daya abstraksi yang dapat melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut demensia atau pikun.

g)        Akibat proses menua, kapasitas gagal ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga berkurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran natrium sampai terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.

h)        Incotenensia Urine (IU) adalah pengeluaran urin di luar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang menyebabkan dehidrasi.

i)          Kemunduran psikologis pada usia lanjut juga terjadi yaitu ketidakmampuan untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya, antara lain sindroma lepas jabatan, sedih yang berkepanjangan. Kemunduran sosiologi pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pemahaman usia lanjut itu atas dirinya sendiri.

2.3.3 Pengukuran Status Gizi pada Lansia a. Berdasarkan IMT

Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu 
cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal (Supariasa, et al., 2002). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang.

Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut: 
Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/ WHO, yang membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Untuk kepentingan pemantauan dan tingkat defisiensi energi ataupun tingkat kegemukan, lebih lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas ambang antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan yang digunakan adalah menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori kurus tingkat berat dan menggunakan ambang batas pada perempuan untuk kategori gemuk tingkat berat. Untuk kepentingan di Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang.

Akhirnya diambil kesimpulan ambang batas IMT untuk Indonesia adalah seperti tabel berikut:

Tabel 2.6 Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia

Tinggi lutut erat kaitannya dengan tinggi badan, sehingga data tinggi badan

didapatkan dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri atau lansia

Pada lansia digunakan tinggi lutut karena pada lansia terjadi penurunan masa tulang (bungkuk), tujuannya untuk mendapatkan data tinggi badan yang akurat. Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula atau nomogram bagi orang yang berusia > 59 tahun.
Pria
= (2.02 x tinggi lutut (cm)) – (0.04 x umur (tahun)) + 64.19
Wanita
= (1.83 x tinggi lutut (cm)) – (0.24 x umur (tahun)) + 84.88

(Gibson, 1993)


2.4 Lanjut Usia

2.4.1 Pengertian Lanjut Usia

Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah mencapai umur 60 tahun ke atas karena adanya proses penuaan menimbulkan berbagai masalah kesejahteraan di hari tua, kecuali bila umur tersebut atau proses menua itu terjadi lebih awal dilihat dari kondisi fisik, mental dan sosial (Mangoenprasodjo dan Hidayanti, 2005).

Menurut WHO (dalam Arisman, 2009), pengelompokan lansia terdiri dari

Middle age disebut juga sebagai pra lansia yang berumur 45-59 tahun. Ederly lansia yang berumur 60-74 tahun, Old age yaitu lansia berumur 75-90 tahun, Very old lansia yang berumur di atas 90 tahun.

2.4.2 Perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia

a.        Perubahan-perubahan fisik (Nugroho, 2000)

1)    Sel

a)       Lebih sedikit jumlahnya

b)       Lebih besar ukurannya

c)         Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraselluler

d)      Menurunnya proporsi protein di otak, otot, darah dan hati

e)       Jumlah sel otak menurun

f)      Terganggunya mekanisme perbaikan sel

g)      Otak menjadi atropis  beratnya berkurang 5-10%

2)      Sistem Persyarafan

a)      Berat otak menurun 10-20% (setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap harinya)
b)       Cepatnya menurun hubungan pernafasan

c)      Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stress
d)      Mengecilnya saraf panca indera

Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf

pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan

rendahnya ketahanan terhadap dingin

3)      Sistem Pendengaran

a)      Presbiakusis (gangguan pada pendengaran)

b)       Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis

c)        Terjadinya penggumpalan serumen dapat mengeras karena peningkatan keratin

4)      Sistem Penglihatan

a)        Spingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar

b)         Kornea lebih berbentuk sferis (bola)

c)        Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa)

d)       Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, dan susah melihat dalam cahaya gelap

e)        Hilangnya daya akomodasi

f)        Menurunnya lapang pandang

g)         Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau
5)        Sistem Kardiovaskuler

a)        Elastisitas, dinding aorta menurun

b)         Katup jantung menebal dan menjadi kaku

c)        Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya

d)       Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektifitas pembuluh darah keperifer untuk oksigenisasi, perubahan posisi dari tidur terduduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing mendadak)

e)        Tekanan darah meningkat diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistolis normal + 170 mmHg. Diastolis Normal + 90 mmHg

6)      Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh

a)        Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik + 350C ini akibat metabolisme yang menurun

b)        Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot

7)      Sistem Respirasi

a)      Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku

b)       Menurunnya aktivitas silia

c)      Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun
d)      Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang

e)      O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg

f)      CO2 pada arteri tidak berganti

g)       Kemampuan untuk batuk berkurang

8)       Sistem Gastrointestinal

a)      Kehilangan gigi

b)      Indera pengecap menurun

c)      Esofagus melebar

d)      Lambung, rasa lapar menurun

e)      Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi

f)      Fungsi absorpsi melemah

g)      Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah

9)         Sistem Reproduksi

a)        Menciutnya ovum dan uterus

b)        Atrofi payudara

c)        Pada laki-laki testis maíz dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur
d)       Dorongan seksual menetap sampai usia di atas 90 tahun (asal kondisi kesehatan baik)

e)        Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya alkali dan menjadi perubahan-perubahan warna.

f)        Atrofi vulva

g)        Vagina mengalami perubahan yaitu selaput lendir menjadi kering elastisitas menurun, permukaan menjadi lebih halus, reaksi sifatnya alkali, terjadi perubahan warna.

10)    Sistem Urinaria

a)        Ginjal mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%, penyaringan ke glomerulus menurun sampai 50%, fungsi tubulus berkurang akibatnya kemampuan untuk mengkonsentrasi urine menurun, berat jenis urin menurun, proteinuria
(biasanya + 1), BUN meningkat sampai 21%, nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat

b)        Vesika urinaria (kandung kemih) otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga mengakibatkan meningkatnya retensi urin

c)        Pembesaran prostat + 75% dialami oleh pria usia di atas 65 tahun

11)      Sistem Endokrin

a)        Produksi dari hampir semua hormon menurun

b)        Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah

c)        Pituitari mengalami perubahan yaitu pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya di dalam pembuluh darah, berkurangnya produksi TSH, ACTH, FSH dan LH

d)       Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya BMR (basal metabilic rate) dan menurunnya daya pertukaran zat

e)        Menurunya sekresi hormon kelamin misalnya progesteron, estrogen dan testeron
12)         Sistem Kulit

a)        Kulit mengkerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak

b)        Permukaan kulit kasar dan bersisik (karena kehilangan proses keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis)

c)        Menurunnya respon terhadap trauma

d)        Mekanisme proteksi kulit menurun

e)        Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu

f)        Rambut dalam hidung dan telinga menebal

g)        Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi
h)        Pertumbuhan kuku lebih lambat

j)           Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk

k)         Kelenjar keringat fungsi dan jumlahnya berkurang

13)    Sistem Muskuloskeletal

a)        Tulang menjadi kehilangan densitinya (cairan) dan rapuh

b)         Kifosis

c)        Pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas

d)       Discusintervertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya berkurang)

e)        Tendon mengerut dan mengalami scelerosis

f)         Atrofi serabut sehingga seseorang bergerak lamban, otot-otot kram dan menjadi tremor

b. Perubahan-perubahan Mental (Nugroho, 2000)

1)    Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental

a)        Perubahan fisik, khususnya organ perasa

b)         Kesehatan umum

c)        Tingkat pendidikan

d)        Keturunan (Hereditas)

e)        Lingkungan

2)        Perubahan kepribadian yang drastis karena ini jarang terjadi. Lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang sehingga kakakuan terjadi disebabkan mungkin karena faktor lain seperti penyakit-penyakit

3)      Kenangan (memory); kenangan lama tidak berubah

Kenangan jangka panjang seperti  berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu

mencakup beberapa perubahan

4)    Intelegentia quation

a)      Berkurangnya penampilan, persepsi dan keterampilan psikomotor

b)       Terjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan dari faktor waktu

c)      Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal. c. Perubahan-perubahan Psikososial
1)        Pensiun sehingga nilai seseorang dikaitkan dengan produktifitasnya dan identitas dikaitkan dengan peranan dalam kerja

2)        Merasakan atau sadar akan kematian

3)        Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan, bergerak lebih sempit

4)        Ekonomi akibat jabatan menyebabkan meningkatnya biaya hidup pada penghasilan yang sulit, bertambahnya biaya pengobatan.

5)        Penyakit kronis dan ketidakmampuan

6)        Kesiapan akibat pengasingan dari lingkungan sosial

7)        Gangguan syaraf panca indera, timbul kebutaan dan ketulian

8)        Gangguan gizi akibat kehilangan jabatan

9)        Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman-teman atau famili
10)         Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik sehingga meningkatkan perubahan terhadap gangguan diri, perubahan konsep diri


2.4.3 Kebutuhan Gizi pada Lanjut Usia

Lansia harus tetap memperhatikan asupan gizinya meskipun lansia tidak mengalami perkembangan dan pertumbuhan lagi. Lansia sangat membutuhkan asupan gizi zat yang essensial untuk mengganti sel-sel yang sudah rusak serta menjaga kestabilan daya tahan tubuhnya (Wirakusumah, 2000).

Pada prinsipnya zat gizi dibutuhkan oleh lansia sama seperti usia muda yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air dan serat dalam jumlah seimbang yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing lansia. Konsumsi makanan yang

cukup dan seimbang bermanfaat bagi lansia untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan penyakit degeneratif serta kemungkinan kurang gizi (Departemen Kesehatan RI, 2003).

Menurut Departemen Kesehatan RI (2003), Angka Kecukupan Gizi (AKG) setiap individu akan berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing pada umumnya dihitung berdasarkan kebutuhan kalori atau energi, sebagai berikut:

a.         Energi

Menurut Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 1998, secara umum kecukupan gizi yang dianjurkan untuk lansia (>60 tahun) pada laki-laki adalah 2200 kalori dan pada wanita adalah 1850 kalori. Kebutuhan energi pada lansia menurun sehubungan dengan penurunan metabolisme basal (sel-sel banyak inaktif) dan kegiatan fisik cenderung menurun. Kebutuhan kalori akan menurun sekitar 5% pada usia 40-49 tahun dan 10% pada usia 50-69 tahun.

b.        Protein

Kecukupan protein sehari yang dianjurkan pada lansia adalah sekitar 0,8 gram/kg BB atau 15-25 % dari kebutuhan energi. Untuk lansia dianjurkan memenuhi kebutuhan protein terutama dari protein nabati dan protein hewani dengan perbandingan 2:1. Jumlah protein yang diperlukan untuk laki-laki lansia adalah 55 gram/hari dan wanita 48 gram/hari yang terdiri 15% protein ikan, 10% protein hewani lain dan 75% protein nabati.

c.         Lemak

Kebutuhan lemak untuk lansia lebih sedikit karena akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, pada lansia dianjurkan konsumsi lemak jangan lebih dari 15 % kebutuhan energi.
d.        Karbohidrat

Untuk lansia dianjurkan untuk mengkonsumsi karbohirat kompleks karena mengandung vitamin, mineral, dan serat daripada mengkonsumsi karbohidrat
murni seperti gula. Dianjurkan pada lansia mengkonsumsi 60-65% karbohidrat

sebagai kebutuhan energi.

e.         Vitamin

Untuk lansia dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi makanan kaya vitamin A, D, dan E untuk mencegah penyakit degeneratif (sebagai antioksidan). Selain itu konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin B12 , asam folat, vitamin B1 dan vitamin C juga dianjurkan untuk mencegah resiko penyakit jantung.

f.         Mineral

Pada lansia dianjurkan untuk mengkonsumasi makanan kaya Fe, Zn, Selenium, dan kalsium serta zat gizi mikro lain.

g.        Air dan Serat

Air sangat penting untuk proses metabolisme dan mengeluarkan sisa pembakaran tubuh. Selain itu serat juga dianjurkan untuk lansia agar buang air besar menjadi lancar. Komposisi makanan sehari sumber energi pada lansia mengandung 60-65% karbohidrat, 15-25% Protein, Lemak 10-15%.


2.4.4        Masalah gizi pada lansia

Menurut  Sumiati (2007), pada lansia terdapat dua masalah gizi yaitu gizi

lebih dan gizi kurang :

a.         Gizi Lebih

Prevalensi obesitas menunjukan peningkatan sesuai dengan pertambahan usia. Pada umumnya berat badan laki-laki mencapai puncak pada usia 50-55 tahun. Pada wanita antara usia 55-60 tingkat metabolisme basal dan pengeluaran untuk aktivitas fisik menurun saat memasuki usia dewasa. Akan tetapi asupan kalori tidak diimbangi sehingga berat badan meningkat.

46






b.        Gizi Kurang

Penurunan asupan kalori biasanya sejalan dengan penurunan tingkat metabolisme susutnya masa tubuh serta menurunnya penggunaan energi untuk aktivitas fisik. Hampir 20% lansia mengkonsumsi 1000 kalori sehari kekurangan protein kalori umum ditemukan pada lansia.
Tag : Menu Masakan
0 Mayu kana' jhek rasarah jhek kun becah malolo tang blog rea mara komentari blog rea se ajudul "Menu Masakan CHICKEN FINGER NUGGET Dan Menu Masakan KUE BOLU LAPIS ES KRIM"

Back To Top